Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Maret 2019

Yakin, Lahan Kering Tetap Mau Dibiarkan?

Menurut kalian, Indonesia masuk ke dalam kawasan lahan basah atau lahan kering?

Terkenalnya Indonesia yang memiliki sumber daya alam melipah membuat kebanyakan orang menganggap bahwasanya Indonesia termasuk ke dalam lahan basah dan dikenal akan kesuburannya. Namun, kenyataanya kawasan lahan basah di Indonesia sangatlah terbatas sedangkan yang lain termasuk kedalam lahan kering yaitu seluas 123 juta hektar, seperti yang dipaparkan oleh Bapak Ahmad Arsyadmunir dalam jurnalnya (hal 75)

Buku ini tidak dapat ditemui di beberapa toko buku karena buku ini adalah buku yang berisi jurnal-jurnal penelitian dari beberapa dosen Pertanian Universitas Trunojoyo Madura yang sebelumnya di kenal dengan Universitas Bangkalan yang kemudian di bukukan dan di cetak tahun 1994 silam.

Dalam buku ini diterangkan bagaimana kondisi tanah di Indonesia yang sebenarnya. Dimulai dari bagaimana cara mengolah tanah lahan kering, cara pengairan di lahan kering, teknologi yang digunakan, jenis tanaman apa saja yang cocok ditanam bahkan serat dalam tumbuhan yang ditanam di lahan kering pun tak lupa dibicarakan dalam buku ini. Madura menjadi titik fokus dalam pembahasan buku ini. Karena Madura memiliki lahan kering yang cukup luas sekitar 338.200 ha atau 73% dari luas daratan Madura. Tidak hanya tentang pengembangan tanaman saja, dalam buku ini juga menjelaskan pengembangan dalam bidang peternakan dan masih banyak lagi.

Jika kita membaca labih lanjut, kita menjadi tahu pemanfaatan lahan kering agar lahan tersebut menjadi produktif. Karena daerah lahan kering memang memiliki kemampuan terbatas dalam menyediakan sumber serat makanan dibandingkan jenis lahan pertanian lain. Meskipun demikian, lahan kering dengan kualitas buah-buahan yang baik seperti di Madura juga memiliki potensi yang besar untuk memasok bahan pangan yang berserat tinggi dengan cita rasa yang unggul.

Pengolahan lahan kering tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan karena terdapat beberapa permasalahan seperti curah hujan yang tidak merata, tanah yang daya simpan airnya rendah, dan tanah yang kadar haranya rendah. Maka dari itu, dalam pengolahan lahan juga dibutuhkan sebuah teknologi. On-farm research (OFR) dengan modifikasi yang didasarkan pada pertanian lahan kering merupakan salah satu usaha meningkatkan alih teknologi pertanian lahan kering.

Sebenarnya arti penting teknologi terhadap kemajuan pembangunan pertanian telah terbukti sejak adanya revolusi industri yang pertama. Yaitu diterapkannya rotasi tanaman dan mengolah tanah menggunakan bajak.

Karena tingkat penerapan teknologi pertanian relatif masih rendah yaitu 35,55%. Untuk itu disarankan agar lahan kering dimanfaatkan secara optimal dengan memperhatikan potensi yang ada. Untuk lahan sawah dianjurkan ditanami kacang atau jagung/padi, sedangkan lahan pekarangan dianjurkan untuk ditanami nangka, salak dan mangga. Diperlukan juga perangsang bagi petani dan pemacu kemajuan pertaniannya baik penyuluhan-penyuluhan maupun bantuan permodalan dan jaminan harga.

Arsyadmunir, Ahmad. 1994. Pertanian lahan kering. Madura: Universitas Bangkalan.

Untuk mengetahui karya saya yang lain silahkan kunjungi widyanova1.wordpress.com ðŸ˜Š